Assalamualaikum….
Salam persahabatan untuk kita semua….“Sahabatku adalah musuh berat yang harus ku taklukkan adalah diriku sendiri”. Begitulah kira-kira uraian ini aku tuliskan.Sahabat adalah sesuatu apapun yang ada disekitar kita, bahkan sangat dekat dengan kita.Diantara kita semua tentu memiliki sahabat yang jiwanya mendamaikan hari-hari kita, yang kata-katanya memotivasi keberhasilan kita, yang tindakannya tak terduga menolong kita saat kesusahan, yang hampir setiap waktunya adalah kebaikan pada kita sebagai sahabatnya. Manusia seperti itu dikirim oleh ALLAH SWT untuk setia di sisi kita, selagi kita pantas untuk ada di sisinya. Mungkin hanya beberapa manusia seperti itu ada dalam ritme kehidupan kita. Karena tak kalah pula jumlah manusia sebaliknya, yang jiwanya mengacaukan hari-hari kita, yang kata-katanya menjatuhkan kita, yang tindakannya menyusahkan kita, yang hampir setiap waktunya adalah keburukan bagi kita.
Sekarang, gambarkan seperti ini, “+” adalah sahabat baik dan “−” adalah sahabat buruk, maka (+ + + + kita − − − −) kita berada diantara sahabat baik dan sahabat buruk (-jangan heran ya ada sebutan buruk, kembali ke pengertian sahabat diatas-). Coba renungkan kalimat ini “orang terbaik bukanlah orang yang mendapatkan segala sesuatu yang terbaik melainkan orang terbaik itu menjadikan segala sesuatu yang ada menjadi yang terbaik”. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan men-sahabat-i sahabat-sahabat baik saja?. Benarkah orang terbaik bertindak seperti itu?, tidak, bukan?.
Manusia dilahirkan sempurna untuk menyelesaikan tugasnya. Jika kita percaya bahwa tak ada cobaan yang melebihi kemampuan kita, maka kita sadar bahwa kita itu begitu sempurna untuk mampu menyelesaikan cobaan-cobaan dalam ritme kehidupan kita.Nah, jadi kita tahu bahwa sahabat-sahabat “buruk” yang memberikan efek negative merupakan cobaan atau tugas yang harus kita selesaikan. Bagaimana cara menyelesaikannya?. Kita tunda sesaat jawabannya.
Coba perhatikan ini. Suatu ketika ada teman yang mengeluh tentang seorang temannya, dia pun berkata “kenapa orang itu sangat menyebalkan?” Apa jawaban kita?, lebih baik diam, karena jika kita tidak menyetujui pernyataanya bahwa orang itu menyebalkan, kita pun akan menjadi orang yang menyebalkan bagi teman kita tersebut. Padahal apa ada jaminan bahwa teman kita tidak menyebalkan bagi orang yang dianggapnya menyebalkan itu, kita tidak tahu, kan?.
Sering dari kita menuntut beberapa persyaratan dari pribadi orang yang diciptakan seperti adanya sekarang, padahal kita tahu sebuah penciptaan ALLAH SWT sangat sempurna, berarti siapa yang kita tuntut?. Pantaskah kita menuntut sesuatu yang sebenarnya kita sedang dituntut akan sesuatu itu oleh ALLAH SWT?. Saat kita sedang menuntut tetapi tidak diberikan oleh ALLAH SWT berarti pertanda bahwa kita belum benar-benar menyelesaikan tugas kita, seperti menunggu jawaban doa atas ikhtiar yang belum maksimal.
Mungkin jawaban tersebut masih rumit untuk pertanyaan “apakah kita hanya akan men-sahabat-i sahabt-sahabat baik saja?. in shaa ALLAH pemahaman ini lebih sederhana:
Bayangkan sosok sahabat terbaik yang pernah kita temukan, bayangkan apa yang sudah dilakukannya untuk kita, semua kebaikannya. Sekarang gunakan sudut pandang berbeda, bayangkan apa saja yang sudah kita bebankan pada sahabat kita, apa saja yang sudah kita paksakan padanya, walau tak ada kalimat paksaan, walau tak ada tindakan memaksa, tetapi hati sahabat baik kita sangatlah reaktif untuk merespon baik setiap kesusahan kita.
Keputusan kita untuk menyebutnya sahabat baik karena respon baik pada signal-signal “kesusahan” yang kita pancarkan terlontar untuknya. Mudah saja kita simpulkan, mungkin hati kita tidak se-reaktif hati sahabat baik kita sehingga timbul lah sosok orang-orang yang menyebalkan yang sebenarnya sedang membutuhkan respon baik dari kita. Dan kita akan menjadi sahabat baik baginya karena dia merasakan apa yang kita rasakan dari sahabat baik kita. Benar begitu?.
Sayangnya kebanyakan dari kita menunggu keadaan sekitar baik dahulu untuk berbuat kebaikan. Padahal akan lebih baik jika kita sebagai pemulai suatu kebaikan.
Terakhir…
Jadikan pribadi kita sahabat terbaik bagi diri kita maka semua akan menjadi sahabat baik bagi kita, karena itu tugas besar dalam penciptaan kita sebagai manusia.
“Taklukkan diri kita sebelum menaklukkan dunia”. Dan nantinya kita akan lebih bisa mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan kita. ALLAH SWT meminta kita melayani-Nya dengan cara melayani sesama kita (sama-sama ciptaan-Nya – apapun yang ada disekitar kita – sahabat kita). “Sebaik-baiknya orang diantara kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang banyak”.
Wassalamualaikum…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar