Senin, 24 November 2014

Dibalik "Air & Batu"

Assalamu'alaikum wr, wb.
Teman-teman tercinta kembali dalam satu lembaran. Lama tak menyapa teman-teman yang haus akan kekuatan. Yang tidak mengeluhkan hidupnya pada setiap kelemahan. Karena sejatinya kita mahluk ciptaan Tuhan, asalnya segala kekuatan. izinkanlah kali ini saya memberi sapaan. Dalam tulisan sedikit rangkaian kata akan saya tuangkan. Tidak lain tidak bukan, untuk sama-sama mencerahkan. Tidak bermaksud mengukuhkan diri sebagai pribadi hebat. Dengan ratusan kata-kata penuh nasihat. sungguh sombong bukanlah saya punya sifat. Tidak lebih hanya ingin menjadi bermanfaat untuk kehidupan manusia sejagad. Amin.

Kali ini ada dua benda yang menginspirasi. Yaitu batu dan air yang diciptakan ILAHI. Saya hanya merasa ada maksud penciptaan untuk dimaknai. Karakter keduanya yang mengilhami datangnya ide penulisan ini. Betapa kita tahu batu yang keras namun dapat dipatri. Sedangkan air yang cair sudah tentu tak dapat dipatri. Bagaimana pepatah lama mengatakan "Bagai mengukir diatas air" adalah satu hal yang tak mungkin terjadi. makna dari pepatahnya adalah kesia-siaan sejati.

Lalu apa yang ingin saya sampaikan melalui air dan batu?. Maaf jika teman-teman sudah menunggu. Saya tidak bermaksud begitu. jujur saya masih ragu, saya juga malu. Semoga tidak ada teman-teman yang beranggapan saya sok tahu. Ini hanya bagian dari Nawaitu (niat, read). Berharap tulisan saya bermanfaat dan berkah selalu. Amin.

Baiklah saya mulai dengan menepikan rasa ragu, menyingkirkan rasa malu, dan tidak bermaksud sok tahu.

Sekali lagi, Air dan Batu. keduanya merupakan suatu analogi kehidupan dan segala yang ada dalam kehidupan. Bagaimana siang dan malam, panas dan dingin, susah dan mudah, dan lebih jelasnya hitam dan putih. Karena tadi saya katakan bahwa air dan batu adalah analogi kehidupan, maka saya akan coba kelompokkan kehidupan menjadi dua bagian ini. Yaitu kehidupan air dan kehidupan batu. kehidupan air terdiri dari manusia-manusia air dan begitu pula kehidupan batu terdiri dari manusia-manusia batu. Bukan manusia penguasa air atau batu dalam "Avatar". Tetapi lebih kepada manusia-manusia yang karakternya seperti air atau batu.
Cara melihat manusia air dan manusia batu sebenarnya adalah suatu relativitas tujuan hidupnya. Analoginya seperti ini. Misalnya ada dua orang anak yang bercita-cita menjadi pilot. Salah satu anak seorang kuli yang makan sehari sekalipun belum pasti. Sedang satu lainnya anak seorang pengusaha kaya yang makan tiga kali sehari walau sebenarnya bisa beratus-ratus kali. Andaikata kita beranggapan cita-citanya (be a pilot) kedua anak itu adalah suatu tujuan hidup maka anak seorang kuli tergolong manusia batu sedangkan anak seorang pengusaha kaya tergolong manusia air.

Saya akan uraikan lebih dulu kehidupan air dan manusia air-nya. Kehidupan air cenderung seperti sosok-sosok manusia yang kisah hidupnya terbilang mudah, mengalir seperti air. Artinya seperti ini, dalam hidupnya dan pencapaian tujuan hidupnya dia hanya perlu memanfaatkan apa yang hampir sudah ada seluruhnya sebagai yang dia miliki. Dia hanya perlu membuat air terus mengalir. Bukankah air jika volumenya kecil atau tidak sebanding dengan tempatnya (wadah atau bejana) air juga tidak bisa mengalir?, contohnya seperti setetes air yang menetes dilantai yang luas dan rata. Sulit untuk mengalir. Jadi seperti analogi anak seorang pengusaha kaya, tentu dia tak kan kesulitan untuk masalah biaya dalam pencapaian cita-citanya. Dia hanya perlu belajar sungguh-sungguh untuk memahami bidang pilot. Terlepas dari IQ atau kecerdasannya yang sanggup atau tidak. Bukankah semua manusia diciptakan tidak ada yang bodoh. seperti itulah yang saya katakan 'hanya perlu memanfaatkan apa yang hampir sudah ada seluruhnya sebagai yang dia miliki. Lalu bagaimana caranya membuat air terus mengalir? (apa maksudnya?). Analoginya seperti ini. Kendati seorang anak memiliki orang tua pengusaha kaya seperti tadi, toh dia tetap harus berusaha untuk mencapai cita-citanya. Kalau dia bermalas-malasan tidak menutup kemungkinan masa depannya lebih buruk dari seorang pengemis.
Berikutnya penguraian tentang kehidupan batu dan manusia batu-nya. Kehiduapn batu cenderung seperti sosok-sosok manusia yang kisah hidupnya terbilang susah, jalan hidupnya keras seperti batu. Artinya seperti ini, dalam hiduonya dan pencapaian tujuan hidupnya dia bukan hanya memutar otak tiga ratus enam puluh derajat untuk menemukan setiap peluang berhasil tetapi juga peluh keringat tak jauh-jauh dari aroma tubuhnya. Dia memerlukan pemahat handal untuk membuat seonggok batu menjadi patung indah, bukan hanya sekedar batu. Jadi seperti analogi anak seorang kuli, bukan tidak mungkin nantinya dia menjadi seorang pilot handal. Tetapi jelas ada dua hal yang harus dia selesaikan dalam waktu yang bersamaan. Yaitu masalah biaya dan bagaimana caranya menguasai bidang pilot itu sendiri. Lalu bagaiman menemukan pemahat handal untuk menjadikan batu sebuah patung indah, bukan hanya batu? (apa maksudnya?). Analoginya seperti ini, anak seorang kuli harus mencari biaya pula selain daripada harus memahami bidang pilot itu sendiri. Walaupun katakanlah dia memahami bidang pilot, tetapi jika tidak punya biaya, toh cita-citanya tidak bisa kesampaian. Seperti banyaknya anak-anak yang cerdas disekolahnya kemudian putus sekolah karena biaya.

Kelebihan karakter air. Dapat berbentuk apa saja dalam tempat yang bagaimanapun (dalam botol bentuk botol, dalam gelas bentuk gelas). Ini seharusnya mengilhami manusia air dalam bergaul. Artinya dia bisa bergaul dengan orang kalangan bawah dan orang kalangan atas (dalam hal ekonomi). Manusia air yang sombong tidak mau bergaul dengan orang kalangan bawah adalah manusia air yang membatu. Perhatikan air yang membeku (es), dimasukkan dalam gelas bentuknya tidak berubah seperti gelas.
Kelebihan karakter batu. Dari bentuknya yang tidak enak dilihat dapat menjadi sebuah bentuk yang penuh keajaiban dengan keindahannya jika telah terpahat oleh pemahat patung handal. Ini harus mengilhami setiap manusia batu agar segera menemukan pemahat handalnya, karena batu tidak akan pernah menjadi patung indah tanpa pemahatnya. sekianlah sedikit uraian analogi saya tentang air dan batu dalam kehidupan ini.

Air atau Batu pun kita, semua harus total dan menjadi indah. SEMANGAT !!!!!. terimakasih telah membaca. maaf kalau garing.
Wassalamualaikum wr, wb.

Jumat, 29 Juni 2012

engkau pasti temukan


Rintik air menjamu hadirnya malam
Tangan Tuhan memilah kisah setiap insan
Ada yang menangis dikala takdirnya kelam
Menepis keraguan dari sang hujan
Mengundang seraya berkata 'bantu aku basahi bumi ini'
Kehilangan
Bukan akhir dari mimpimu
Penundaan
Akan ada kisah indah yang menjemput mu
Kekecewaan
Kerikil kecil yang besarkan rasa bahagiamu
Walau pun nanti
Setelah hati semakin mengerti
Setelah pikir semakin dewasa
Setelah tindak semakin terkendali
Setelah cinta semakin tahu rasa

Egois terganti oleh berbagi
Sombong terganti oleh rendah hati
Ceroboh terganti oleh teliti
Malas mu pun pergi seiring semangat mu yang berapi-api

Merpati jantan setia pada satu betina
Ekor cicak nyaris selalu selamatkan tuannya
Beo bisa bernyanyi seperti manusia
Harimau tak pernah memakan anaknya

Seperti itu
Pasangan yang diburu setiap manusia
Ketepatan ide mendobrak jalan keluar problema
Kesamaan pun menjadikan perbedaan luar biasa
Kekuatan diberi tuk lindungi sesama

Tidak diam ketika masih bisa bergerak
Tidak bisu ketika masih bisa bicara
Tidak mundur ketika masih bisa maju
Tidak salah ketika masih bisa benar
"Tangisan Kemarin Membuat Berpikir Hari Ini Untuk Menentukan Bahagia Hari Esok!!!"

Tuhan tahu
Engkau pasti temukan
Cara mu menangis
Cara mu berpikir
Cara mu bahagia
Menemukan jati diri yang masih tersudut
Diantara topeng-topeng egois, sombong, ceroboh serta malas

Hakikatnya, engkau lahir atas rencana besar orang tua mu
Yang merupakan rencana kecil Tuhan mu

Maka engkau harus telusuri yang kecil
Dan jagalah yang besar

Karena setelah engkau temukan
Kau lupa apa itu egois
Kau lupa apa itu sombong
Kau lupa apa itu ceroboh
Kau lupa apa itu malas

Engkau intan di perut bumi
Yang kilau indahnya terpancar
Setelah engkau temukan
Dan engkau pasti temukan


02.15,19,11,2010.

sahabat


Assalamualaikum….


Salam persahabatan untuk kita semua….

“Sahabatku adalah musuh berat yang harus ku taklukkan adalah diriku sendiri”. Begitulah kira-kira uraian ini aku tuliskan.

Sahabat adalah sesuatu apapun yang ada disekitar kita, bahkan sangat dekat dengan kita.

Diantara kita semua tentu memiliki sahabat yang jiwanya mendamaikan hari-hari kita, yang kata-katanya memotivasi keberhasilan kita, yang tindakannya tak terduga menolong kita saat kesusahan, yang hampir setiap waktunya adalah kebaikan pada kita sebagai sahabatnya. Manusia seperti itu dikirim oleh ALLAH SWT untuk setia di sisi kita, selagi kita pantas untuk ada di sisinya. Mungkin hanya beberapa manusia seperti itu ada dalam ritme kehidupan kita. Karena tak kalah pula jumlah manusia sebaliknya, yang jiwanya mengacaukan hari-hari kita, yang kata-katanya menjatuhkan kita, yang tindakannya menyusahkan kita, yang hampir setiap waktunya adalah keburukan bagi kita.



Sekarang, gambarkan seperti ini, “+” adalah sahabat baik dan “−” adalah sahabat buruk, maka (+ + + + kita − − − −) kita berada diantara sahabat baik dan sahabat buruk (-jangan heran ya ada sebutan buruk, kembali ke pengertian sahabat diatas-). Coba renungkan kalimat ini “orang terbaik bukanlah orang yang mendapatkan segala sesuatu yang terbaik melainkan orang terbaik itu menjadikan segala sesuatu yang ada menjadi yang terbaik”. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan men-sahabat-i sahabat-sahabat baik saja?. Benarkah orang terbaik bertindak seperti itu?, tidak, bukan?.



Manusia dilahirkan sempurna untuk menyelesaikan tugasnya. Jika kita percaya bahwa tak ada cobaan yang melebihi kemampuan kita, maka kita sadar bahwa kita itu begitu sempurna untuk mampu menyelesaikan cobaan-cobaan dalam ritme kehidupan kita.

Nah, jadi kita tahu bahwa sahabat-sahabat “buruk” yang memberikan efek negative merupakan cobaan atau tugas yang harus kita selesaikan. Bagaimana cara menyelesaikannya?. Kita tunda sesaat jawabannya.



Coba perhatikan ini. Suatu ketika ada teman yang mengeluh tentang seorang temannya, dia pun berkata “kenapa orang itu sangat menyebalkan?” Apa jawaban kita?, lebih baik diam, karena jika kita tidak menyetujui pernyataanya bahwa orang itu menyebalkan, kita pun akan menjadi orang yang menyebalkan bagi teman kita tersebut. Padahal apa ada jaminan bahwa teman kita tidak menyebalkan bagi orang yang dianggapnya menyebalkan itu, kita tidak tahu, kan?.



Sering dari kita menuntut beberapa persyaratan dari pribadi orang yang diciptakan seperti adanya sekarang, padahal kita tahu sebuah penciptaan ALLAH SWT sangat sempurna, berarti siapa yang kita tuntut?. Pantaskah kita menuntut sesuatu yang sebenarnya kita sedang dituntut akan sesuatu itu oleh ALLAH SWT?. Saat kita sedang menuntut tetapi tidak diberikan oleh ALLAH SWT berarti pertanda bahwa kita belum benar-benar menyelesaikan tugas kita, seperti menunggu jawaban doa atas ikhtiar yang belum maksimal.



Mungkin jawaban tersebut masih rumit untuk pertanyaan “apakah kita hanya akan men-sahabat-i sahabt-sahabat baik saja?. in shaa ALLAH pemahaman ini lebih sederhana:



Bayangkan sosok sahabat terbaik yang pernah kita temukan, bayangkan apa yang sudah dilakukannya untuk kita, semua kebaikannya. Sekarang gunakan sudut pandang berbeda, bayangkan apa saja yang sudah kita bebankan pada sahabat kita, apa saja yang sudah kita paksakan padanya, walau tak ada kalimat paksaan, walau tak ada tindakan memaksa, tetapi hati sahabat baik kita sangatlah reaktif untuk merespon baik setiap kesusahan kita.



Keputusan kita untuk menyebutnya sahabat baik karena respon baik pada signal-signal “kesusahan” yang kita pancarkan terlontar untuknya. Mudah saja kita simpulkan, mungkin hati kita tidak se-reaktif hati sahabat baik kita sehingga timbul lah sosok orang-orang yang menyebalkan yang sebenarnya sedang membutuhkan respon baik dari kita. Dan kita akan menjadi sahabat baik baginya karena dia merasakan apa yang kita rasakan dari sahabat baik kita. Benar begitu?.



Sayangnya kebanyakan dari kita menunggu keadaan sekitar baik dahulu untuk berbuat kebaikan. Padahal akan lebih baik jika kita sebagai pemulai suatu kebaikan.



Terakhir…

Jadikan pribadi kita sahabat terbaik bagi diri kita maka semua akan menjadi sahabat baik bagi kita, karena itu tugas besar dalam penciptaan kita sebagai manusia.

“Taklukkan  diri kita sebelum menaklukkan dunia”. Dan nantinya kita akan lebih bisa mengutamakan kepentingan orang banyak daripada kepentingan kita. ALLAH SWT meminta kita melayani-Nya dengan cara melayani sesama kita (sama-sama ciptaan-Nya – apapun yang ada disekitar kita – sahabat kita). “Sebaik-baiknya orang diantara kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang banyak”.



Wassalamualaikum…

Senin, 25 Juni 2012

aku tak takut dan aku tak kan menyerah!



Aku hanya ingin bercurah hati. Aku hanya ingin melepas semua bimbang yang ada. Kegagalan rencana sebuah celah munculnya suatu keberhasilan.

Karena dengan menulis, duniaku cerah kembali. Meski tanpa sosok bintang yang pernah bersinar. Ya, engkaulah bintang itu.

Kata “pernah” tidak menandaakan kau telah tiada, hanya saja kini meredup, seiring semangat yang mulai kendur, beserta sikapmu yang membuatku kian ragu.

Tahukah engkau?.
Aku hati yang terdampar di pantai sunyi. Tempat dimana aku temukan ketenangan. Ketenangan bersama riuhnya angin meniup dedaunan, riak ombak bertaut dengan sang karang. Dan penawaran panorama nan elok nian.

Siapa tak ingin?.
Kecuali dia belum merasakannya. Walau dengan pantai berbeda mungkin rasa bisa sama.

Kini perlahan angin mulai malas, ombak mulai ganas, suara-suara mulai ramai. Nada-nada pesimis mulai lebai.

Pantai itu tak lagi tenang, syair “maju tak gentar” pun mulai tak terdengar.

Aku yang pernah berpikir untuk mundur menaklukkan hatimu. Sepertinya akan selalu berpikir begitu. Tapi itu jika aku bukanlah lelaki sejati. Berarti sebaliknya, karena kini aku masih menjadi pejuang sejati di depan gerbang hatimu.

Aku bisa hiraukan nada-nada itu, aku bisa ambil hikmah sikapmu. Dan memang seharusnya aku bisa, bukan menyerah dan berkata “aku tak pantas untukmu”.

Ketahuilah
Cintaku seperti
Jasad tak bernyawa
Yang nyawanya adalah
Cintamu

Cintaku seperti
Ombak di lautan berkarang
Yang selalu rindu saling bertaut
Dan karang itu adalah
Cintamu

Cintaku seperti
Awal dan akhir dongeng pahlawan
Selalu indah jika bersama
Cintamu                                                                                




12 September 2010